Hadis sebagai sumber hukum

Hadis Hadis sebagai sumber hukumKetika Muhammad mendekati batas akhir hayatnya, mayarakat Arab telah menjelma menjadi umat yang terkondisikan dengan baik di atas norma-norma Islam. Dalam keadaan demikian, Nabi Muhammad saw. merasa telah berhasil merampungkan misi kerasulannya yang sudah diembannya sejak pertama kali menerima wahyu.

Dalam menjalankan misinya itu, seluruh perilaku dan kondisi yang hadir pada diri Muhammad saw. dipersepsikan sebagai sistem etika universal yang menjadi sumber hukum yang kedua setelah al-qur’an. Sebab sistem etika tersebut tidak lepas dari kerangka etika al-Qur’an. Pernyataan ini didukung oleh salah satu riwayat yang disampaikan oleh ‘Aisyah bahwa prilaku (akhlaq) muhammad adalah al-Qur’an.

Selain al-Qur’an dan hadis yang dijadikan dasar, terbentuknya hukum-hukum praktis dalam fikih Islam, Ijma’ dan Qiyas juga disepakati sebagai sumber referensi dalam melakukan ijtihad atau menisbatkan suatu hukum.

Kedudukan Hadis sebagai sumber hukum Islam yang kedua, telah diterima oleh hampir seluruh ulama dan umat Islam, tidak saja dikalangan Sunni tapi juga di kalangan Syi’ah dan aliran Islam lainnya.

Barang siapa yang mengikuti Rasul maka sesunguhnya ia telah mentaati Allah. (surat al-Nisa’ ayat 80)

Dengan demikian jelaslah bahwa hadis atau sunnah Nabi merupakan sumber ajaran Islam di samping al-Qur’an. Orang yang menolak hadis sebagi sumber ajaran Islam, berarti orang itu pada hakikatnya menolak al-Qur’an. Dan perlu diketahui bahwa mereka yang menolak hadis sebagai “sumber hukum Islam” lebih disebabkan karena keterbatasan pengetahuan mereka terhadap al-Qur’an dan terutama kepada hadis itu sendiri.

No Comments

Start the ball rolling by posting a comment on this article!

Leave a Reply




XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>