Rabi’ah al-Adawiyah

Sufi 300x209 Rabiah al AdawiyahRabi’ah binti Ismail al-Adawiyah, seorang pemuka sufi abad kedua hijriyah. Ia lahir di Basrah tahun 95 H./713-714 M., pendapat lain mengatakan tahun 99 H./717 M. Dia adalah anak keempat, karenanya diberi nama Rabi’ah yang artinya anak keempat, dari suatu keluarga miskin. Kedua orang tuanya telah meninggal ketika ia masih kecil. Namun hal tersebut tidak membuatnya kehilangan pedoman. Demikian berat cobaan yang dihadapi ia tetap menerimanya dengan sabar dan penuh tawakkal kepada Allah swt.

Pada usia menjelang dewasa, ia pergi dan berpisah dari saudara-saudaranya, namun di tengah perjalanan yang tidak tentu arah, ia ditangkap oleh seorang penjahat lalu menjualnya kepada seseorang dengan harga enam dirham. Sejak saat itu ia menjalani hidupnya sebagai seorang budak. Di siang hari ia harus bekerja berat melayani tuannya dan pada malam hari ia beribadah kepada Allah swt.

Pada suatu malam terjadi suatu peristiwa aneh yang merubah jalan hidupnya; tuannya terjaga dari tidurnya dan melalui jendela melihat Rabi’ah sedang beribadah dan sujud, di atas kepalanya nampak cahaya yang menerangi seluruh rumahnya, dalam ibadahnya Rabi’ah berdoa: “Ya Allah Engkau tahu bahwa hasrat hatiku adalah untuk dapat memenuhi perintah-Mu. Jika Engkau dapat mengubah nasibku ini, niscaya aku tidak akan beristirahat sekejappun dari mengabdi kepada-Mu”. Melihat kejadian tersebut, sang tuan merasa takut dan tidak dapat memejamkan matanya hingga menjelang fajar. Pada pagi harinya, ia memanggil Rabi’ah dan memerdekakannya. Sejak saat itu ia menghirup udara kemerdekaannya sebagai manusia.

Setelah Rabiah bebas, ia memusatkan perhatian pada kegiatan spritual. Tidak begitu jelas diketahui kepada siapa ia berguru menimba ilmu keislaman. Pada mulanya ia tinggal di suatu dusun, lalu berpindah ke Basrah. Di sana ia memiliki suatu majelis yang banyak dikunjungi oleh murid-muridnya yang terdiri dari pada zâhid untuk belajar dan bertukar pikiran. Tokoh-tokoh yang hidup semasa dengannya antara lain Hasan al-Basri (w. 110 H), Rabah al-Qays, dan Sufyan al-Tsawri (w. 135 H).

Dalam hidupnya yang yang diarahkan pada dimensi spritual, Rabia’ al-Adawiyah menjauhi kehidupan duniawi (zuhud, ascetic). Ia hidup dalam kemiskinan dan menolak segala bantuan materi yang diberikan kepadanya. Kehidupan Rabia’ah yang ascetic ini bisa dimaklumi, dengan dua pendekatan, pertama, Rabi’ah  menyadari latar belakang hidup keluarganya sebagai orang yang miskin. Secara psikologis pengalaman masa lalunya sebagai orang yang miskin dan bekas budak membawanya untuk tidak perlu hidup bermewah-mewah. kedua, sebagai seorang sufi, hal pertama yang harus ditempuh sebelum bergumul dalam dimensi spritual ialah  kehidupan yang ascetic.

Popularitas Rabi’ah al-Adawiyah dalam dunia mysticism disebabkan oleh karena dialah yang memperkenalkan dan mengemukakan serta membawa versi baru dalam hidup kerohanian dari tingkat zuhud yang dikemukakan oleh Hasan al-Basri, yang bersifat khawf dan rajâ’, dinaikkan ke al-hubb. Hal inilah yang mengantarkannya mencapai wilayah ruhani yang tinggi yang hanya dapat dicapai oleh awliyâ’ dan hamba-hamba pilihan.

Rabi’ah al-Adawiyah menghabiskan sisa hidupnya di Basrah hingga wafatnya tahun 185 H./801 M. Rabi’ah al-Adawiyah tidak meninggalkan ajaran tertulis. Langsung dari tangannya sendiri. Ajarannya hanya dapat diketahui melalui para muridnya dan baru dapat dituliskan beberapa tahun setelah kematiannya.

No Comments

Start the ball rolling by posting a comment on this article!

Leave a Reply




XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Copy Protected by s .